Jumat, Februari 08, 2008

ngulik blogspot lagi

Meskipun ini blog-ku yang pertama, yaitu sekitar akhir tahun 2006 ketika berpindah dari homepage-ku di tripod ternyata produktivitasku di sini tidak terlalu banyak. Itu bukan karena aku tidak menulis lagi, tetapi karena waktu-waktu tersebut aku menemukan blog yang di host oleh wordpress.com. Sejak itu aku produktivitas di sana.

Mengapa sekarang aku menulis lagi di sini.

Jelas, keingintahuan yang relatif tinggi pada blog ini. Pikiranku adalah, meskipun blogspot ini dalam pengoperasian relatif tidak semenarik wordpress tetapi karena kemampuannya menerima **script** dan juga **adsense** saya kira cukup menjanjikan untuk ditelaah lebih lanjut.

Untuk itulah aku mencoba menekuninya lagi. Siapa tahu nanti bisa berbuah manis. :)

Ada satu hal yang mengganggu karena ternyata fasilitas editor grafis-nya tidak sekomplet punya wordpress, misalnya jika mau memasang code untuk memotong tulisan ketika ditampilkan awal. Apa ya ?

Ya, bagaimanapun perlu kucoba dulu.
Semoga betah aja.

Minggu, Juli 23, 2006

Rencana MRT di Jakarta

Saya kira gambar-gambar di bawah dapat bercerita sendiri, moga-moga terwujud lebih bagus dari yang dibikin artis berikut:
Stasium Plaza Senayan
Stasiun depan Mall Ambasador

Trim bagi yang ngirim gbr tsb.

Selasa, Juli 18, 2006

UPH Festival

Hari ini 18 Juli 2006 mahasiswa baru UPH diterima masuk pertama kali. Acara penyambutannya sangat meriah, sekaligus memanfaatkan gedung UPH yang terbaru. Gedung baru ini sangat hebat, terdiri dari food junction di lantai bawah dan di atasnya ada ruang perpustakaan tiga lantai berlantai karpet tebal, sangat mewah.Di atas gedung tersebut juga ada tempat pertemuan / kebaktian yang memuat lebih dari 1000 orang, lengkap dengan lift dan escalator pada masing-masing lantai. Hebat. Selama ini penulis belum pernah melihatnya, bahkan terkagum-kagum. Bulan depan foto-fotonya akan penulis up-load ke FLICK. Saat ini kuoto sebanyak 20 Mb telah penuh.

Sabtu, Juli 15, 2006

Laporan dari Yogya

Pagi ini, aku baru datang dari Yogya, menengok kota kelahiranku. Gempa besar benar-benar terjadi, Yogya bagian selatan luluh lantak. Aku dan mas Sonny, putra bude, berkesempatan berkeliling naik motor. Berangkat dari rumah Garuda 20 , Gereja Baciro, Bausasran 38, Gereja Bintaran, Kampus STIE, Kampus ISI, Imogiri, Gereja Ganjuran, Bantul dan sekitarnya.

Salah satu kesan yang baik yang dapat aku tangkap dalam satu hari tersebut adalah ketegaran. Orang-orang Yogya memang tegar, meskipun disana-sini terlihat puing, tidak terlihat satupun pengemis berkeliaran, bahkan selama berputar-putar (dengan motor) tersebut, tidak dijumpai orang-orang dijalanan meminta-minta dengan kotak sumbangan. Hebat, karena bagaimanapun, meskipun penulis juga orang Yogya, tetapi karena terbiasa di Jakarta maka melihat kotak sumbangan di jalan-jalan menjadi terbiasa, maka penulis membayangkan bahwa nanti di jalan-jalan disana pasti ketemu dengan banyak orang minta-minta. Kenyataannya koq tidak.

Foto-foto bangunan rusak akibat gempa dapat dilihat di Flickr

Sebagai contoh adalah kerusakan di kampus ISI, Sewon Bantul Yogyakarta sbb:
gedung Pusat Penelitian ISI bagian bawah kiri hancur

Selasa, Juli 11, 2006

Basa JAWI - tasih kemutan mboten nggih?

Kulo kepengker crios menawi basa puniko penting sanget. Kulo gadah penggalih, menawi basa punika langkung penting dipun bandingaken kaliyan matematik. Amargi meniko, kulo dados kemutan kaliyan basa lair kulo inggih meniko basa jawi, ingkang sampun dangu sanget mboten kulo ginakaken.

Lha! Wonten media meniko bade kulo cobi. Mugi-mugi tasih sae, menawi wonten ingkang "aneh" nyuwun ngapunten nggih. Basa jawi namung kulo ginakaken kangge komunikasi dumateng semah kulo, amargi lare-lare kulo sampun mboten saged mangertos malih. Padahal basa jawi meniko sae lho, ngangge basa menika kita saged ngermati tiang sepuh ingkang benten dipun bandingaken lare alit.

Kulo mboten ngertos menapa tasih wonten tiang ingkang maos blog meniko lan mangertos dumateng basa jawi kulo puniko. Mergi menika kulo sampunaken sakpuniko kemawon.

Nyuwun sewu dumateng tiyang ingkang mboten ngertos basa ingkang kulo ginaken meniko.

Suluk saking kulo ingkang pados upo ing jakarta, macet lan nguwatosi

Minggu, Juli 09, 2006

MATEMATIKA atau BAHASA dulu ?

Pertanyaan di atas menjadi pertanyaan klasik, khususnya bagi orang tua yang memperhatikan anak-anaknya yang sedang belajar di sekolahan. Selanjutnya pertanyaan tersebut dapat dikembangkan lagi, mana yang penting, IPA atau IPS ? Sosial atau teknik, dsb-nya.

Kembali ke masalah tadi, pelajaran matematika atau pelajaran bahasa, mana yang sebaiknya dikuasai sedini mungkin untuk anak-anak. Lho koq anak-anak.

Ya betul, karena kebetulan aku udah punya anak yang menjelang gede, jadi aku harus mulai memilihkan. Ke dua-duanya, wah memang bagus kalau bisa semua. Tapi coba aku tengok jadwal anakku,dari pagi pk 6.00 sampai rumah pk 14.00 kegiatan rutin sekolah. Lho koq pagi banget, o karena pakai mobil jemputan yang memang sepagi itu, dan karena muter-muter dulu maka pantas sampai rumah lagi juga siang sekali. Itu memang jadwal rutin harian, yah mungkin typical anak jaman sekarang. Lalu sorenya. Ok, ku chek dulu jadwal sore harinya. Hari Senin sore kosong, Selasa sore les gitar, Rabu sore Tari Bali Saraswati, hari Kamis Renang, hari Jumat sore kosong, hari Sabtu sore Tari Bali lagi, hari minggu pagi ke Gereja dan sesekali tugas Putri Altar. Wah koq padat sekali, jadi kalau ambil pelajaran tadi di atas maka penuh sekali jadwalnya setiap hari. Pantas badannya kurus. Jadi sebaiknya nanti kalau anakku di SMP memilih satu aja les-nya, dengan catatan Tari dan Renang dan Musik tetap diteruskan, tanggung kalau putus ditengah jalan. Jadi apa yang sebaiknya di ambil MATEMATIK atau BAHASA ? Bingung lagi. Jadi sebaiknya apa ya ?

Dari latar belakang jadwal kegiatan yang aku sajikan di atas, maka ada tiga kemungkinan keputusan yang dapat diambil: 1) semuanya asalkan fisiknya kuat ; 2) ambil salah satu saja dan fokus ke situ agar anak tidak kecapaian ; 3) nggak usah ambil les manapun istirahat di rumah agar tubuhnya bisa gemuk.

Apakah pelajaran sekolah sudah cukup.

Akhirnya aku memutuskan, dengan alasan bahwa aku belum puas dengan pelajaran yang diperoleh anakku disekolah. Bagiku itu hanya sekedar formalitas belaka, melatih disiplin dan belajar serta bersaing dengan rekan-rekan yang sebaya. Ilmunya, wah jangan ditanya, aku aja udah lupa. Menurutku harus ada kegiatan lain yang harus dipunyai (harus lebih sukses dari orang tuanya --> ego ayahnya kali). Selanjutnya aku memilih alasan kedua yaitu memilih satu kegiatan les aja, aku juga mengerti, hari-harinya sudah sibuk, kalau diberi kesibukan lagi apa fisiknya kuat. Lalu kegiatan les apa yang sebaiknya diambil, matematik atau bahasa.

Jika mengacu pada latar belakangku dulu, ada anggapan bahwa matematika lebih penting, matematika adalah dasar dari semuanya, itu kata ahli-ahli, selain itu matematika terkesan intelek, iptek dsb-nya. Jadi apakah aku memilih sama. Tetapi pengalaman hidup yang aku jalani menunjukkan lain.Ternyata kemampuan ber-bahasa adalah lebih penting dari matematika.

Saya yakin bahwa ada orang yang dapat hidup tanpa memahami matematika, tetapi orang akan susah hidup jika tidak bisa berbahasa. Berbahasa ibarat komunikasi, kemampuan berbahasa asing ibarat jendela dunia. Aku merasa bahwa jika aku mampu berbahasa asing dengan lebih baik maka banyak kesempatan baik yang dapat aku raih, tentu aku akan lebih baik dari sekarang. Untunglah aku menyadari bahwa bahasaku lemah sehingga aku terus berupaya, minimal reading bagiku tidak ada masalah, speaking ya dipaksa bisalah tapi masih blum "pd", apalagi writing masih lemah. Coba kalau aku fasih maka bukuku bisa mendunia. Tapi aku bersyukur, adanya kesempatan ke Stuttgart membuka wawasanku untuk mampu menulis. Ternyata dengan kemampuan berbahasa tadi (menulis) aku merasa lebih "pd" untuk mengarungi dunia. Jadi hal itulah yang ingin aku tulari ke anak-anakku.

Aku mengharapkan anak-anakku mempunyai kemampuan berbahasa asing, bahasa inggris adalah bahasa yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Harus bisa ! Agar istimewa sebaiknya mengambil satu bahasa asing yang lain, dan aku mengusulkan jerman. Bahkan aku bilang kepadanya, memberi pengertian, jika kamu menguasai tari, olahraga renang, satu alat musik dan fasih berbahasa asing inggris dan satu lagi jerman misalnya maka hari tuamu akan sukses terlepas dari bidang formal yang kamu geluti.

He, he, he , mimpi orang tua ke anak-anaknya. Boleh khan.

Anda punya mimpi ?

Tentang UN yg sedang FAVORIT

Bagi para pengamat pendidikan gembar-gembor pro dan kontra tentang UN (ujian nasional) pastilah mereka ketahui. Anda yang PRO atau KONTRA ?

Kalau tentang UJIAN-nya sendiri aku ada di sisi PRO, para siswa harus melewati UJIAN untuk dapat menyelesaikan tahap belajarnya. Tapi masalahnya apakah UJIAN tersebut harus sama, serentak dan sekaligus menghabiskan duit bermilyar-milyar tersebut. Apakah dengan UN tsb langsung sekolah-sekolah kita di Indonesia bermutu?

Saya kira, itu nggak langsung terkait. Sebenarnya pemerintah ngotot memakai UN hanya sebagai show-force ke kalangan awam (luar) bahwa mereka telah melakukan tindakan hebat meningkatkan mutu pedidikan secara nasional. Daripada melakukan tindakan peningkatan mutu lain, yang perlu komitmen kerja keras dari masing-masing individu yang terkait.

Selain itu yang jelas, pemerintah melaksanakan UN karena mereka tidak percaya (meragukan) proses yang dilakukan oleh setiap institusi pendidikan di Indonesia untuk secara mandiri mengevaluasi hasil pendidikannya selama ini.

Keraguan yang timbul tersebut sebenarnya berakar dari peraturan ttg diberlakukannya kebijaksanaan penyeragaman untuk setiap sekolah selama ini. Tentu anda masih ingat jamannya "sekolah favorit", dalam era tahun 80-an. Pemerintah takut dikatakan tidak adil, karena tidak setiap orang mendapat kesempatan seperti itu, tindakan pertama adalah menyamakan baju seragam utk tingkat SD, SMP dan SLTA. Lalu rayonisasi, dsb. Sebenarnya masyarakat yang dirugikan dengan tindakan tersebut. Orang yang berpotensi tinggi tidak mendapat haknya, dan disamakan dengan masyarakat lain yang santai-santai. Untung hal tersebut tidak berlaku utk perguruan tinggi. Mereka mengacu pada pendapat semua rakyat berhak pendidikan (apapun pendidikan tsb). Seperti halnya sekarang semua ingin pendidikan tinggi, ingin gelar, apapun gelar tersebut dan bukan kompetensinya.

Pemerintah tidak berani melihat perbedaan dari setiap institusi pendidikan yang ada. Apa itu benar, apa itu tidak adil.

Jika saja pemerintah berani mengambil kebijaksanaan menghargai perbedaan, dan melihat adanya "sekolah favorit" sebagai salah satu fenomena yang perlu dihormati maka sebenarnya UN yang menghabiskan duit bermilyar-milyar dan juga pro-kontra tsb tidak perlu diadakan. Adanya sekolah favorit dan sekolah unggulan dan apalagi namanya akan mengakibatkan seleksi secara alami untuk sekolah-sekolah yang non-favorit. Agar tidak tereliminasi maka mereka harus berupaya, bekerja keras sehingga menjadi favorit. Keunggulan menjadi visi dari pendidikan yang mereka jalankan selama ini. Tetapi dengan adanya UN maka para pendidik yang tidak bermutu dapat menggunakankan sebagai pembenaran terhadap apa yang ada. Fokus mendidik hanya sekedar lulus UN. TITIK.

Menurut penulis istilah "sekolah favorit" pasti tidak jatuh dari langit, itu merupakan kulminasi hasil yang mereka peroleh selama ini. Kalau mereka yang dikategorikan sekolah favorit tetapi tidak menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan pasti istilah favorit tersebut juga akan hilang dengan sendirinya.

Salam dari pendidik yg ingin alumninya "favorit" di masyarakat

Sabtu, Juli 08, 2006

Caraku memberi PENILAIAN di UPH

Aku tahu, mungkin ada mahasiswaku yang kesel karena nilai yang kuberikan. Aku memang tega memberi nilai 0 (nol) pada beberapa mahasiswaku jika kertas jawabannya kosong atau isi tapi nggak ada artinya. Tetapi di sisi lain, aku juga dengan senang hati akan memberi nilai 100 (seratus) jika jawaban yang diberikan sangat memuaskan. Bagiku, jawaban mahasiswa bisa saja berbeda 5 - 10% dan tetap aku beri nilai baik jika secara keseluruhan urut-urut pengerjaannya telah benar dan memuaskan.

Aku nggak tahu, apakah rekan-rekan dosen yang lain juga sependapat dengan caraku di atas.

Sebagai pengajar mata kuliah Analisa Struktur (I dan III), Struktur Beton Bertulang, Struktur Baja, Pemrograman Komputer, Komputer Rekayasa Struktur aku harus berani bertindak tegas. Mata kuliah yang aku berikan tersebut tidak mentolerir adanya kesalahan.

Dalam mata kuliah pemrograman komputer. Ketika anda salah menempatkan koma dan mengganti menjadi titik maka bisa saja komputer anda akan hang atau nggak jalan.

Sedangkan pada mata kuliah struktur beton bertulang. Anda bisa membayangkan jika ada dua insinyur sama-sama menghitung penulangan untuk struktur balok kantilever, kedua-duanya telah menghitung dengan prosedur yang benar (karena sama-sama hapal di luar kepala) dan memperoleh hasil jumlah tulangan yang diperlukan sama, misalnya 5D25, tetapi ternyata cara pemasangannya berbeda, satu memasang di bawah dan satu memasang di atas. Mana yang benar? Jelas, untuk struktur kantilever dengan momen negatif di tumpuan maka pemasangan tulangan di sisi atas adalah yang benar, sedangkan yang masang di sisi bawah telah membuat kesalahannya fatal. Kalau hal tersebut terjadi di lapangan bisa saja menyebabkan retak bahkan keruntuhan struktur yang mengakibatkan korban jiwa. Masih mending jika yang satu 4D25 dan yang lain 5D22, tapi sama-sama di sisi atas. Hal tersebut tentu masih dapat dipertimbangkan.

Jadi kompetensi dalam memahami materi yang ada dalam perkuliahan-perkuliahan tersebut sangat penting, tidak sekedar tahu tetapi harus paham khususnya menghadapi kasus nyata. Kesalahan dalam kasus nyata tidak hanya merugikan secara finansial tetapi bahkan dapat menimbulkan bencana. Latar belakang itulah yang mendasari cara aku memberi penilaian bagi mahasiswaku di UPH.

Sebenarnya yang aku inginkan dari mahasiswaku adalah BAGAIMANA dan MENGAPA mereka mendapat jawaban tersebut atau tepatnya latar belakang diperoleh jawaban tersebut.

Dalam satu sisi yang lain, aku merasakan bahwa perkuliahan yang aku berikan hanyalah sebagai pembuka wawasan mereka untuk belajar lebih banyak lagi agar menjadi PROFESIONAL. Aku menyadari bahwa 16 x kali tatap muka merupakan waktu yang singkat untuk memahami secara benar suatu permasalahan rekayasa. Oleh karena itu, dalam menentukan nilai akhir aku tidak mengandalkan semata-mata hasil UJIAN saja. Untuk itu aku memberi mereka tugas-tugas yang merangsang mereka untuk giat belajar. Selanjutnya agar mereka bersemangat maka tugas-tugas tersebut juga aku beri nilai dan dipertimbangkan dalam mendukung nilai Akhir.

Untuk mengerjakan tugas-tugas atau PR tsb, aku memberi mereka kebebasan, silahkan bila mereka bekerja sama dengan teman-temannya. Tapi yang penting harus dikerjakan sendiri. Oleh karena itu biasanya tugas yang aku berikan berbeda-beda untuk tiap person atau kelompok (maksimum dua orang). Selanjutnya NILAI TUGAS tersebut secara keseluruhan tidak boleh lebih dari 33.333% dari nilai total akhir. Dari tugas-tugas tersebut yang aku nilai adalah kemauannya, kerajinannya, dan apa-apa yang lain yang mungkin bersifat subyektif. Kalau mengerjakan dengan baik maka nilainya juga baik yaitu antara 70 - 90.

O ya tugas tersebut bisa satu atau lebih, tergantung bobot tugas yang diberikan dan juga waktunya. Bobot nilai yang lain yang sebesar 66.6667% diambil dari nilai UTS dan UAS, Jadi masing-masing 33.3333% . Disini yang aku nilai adalah kompetensinya. Kalau bisa mengerjakan maka nilainya 100 (seratus) dan kalau kosong adalah 0 (nol). Tega ya?.

Dari strategi penilaian yang aku berikan maka bagi mahasiswa rajin dan mampu mendapat nilai bagus minimal pada salah satu ujian yang diberikan yaitu UTS atau UAS saja maka mereka akan LULUS (nilainya C atau lebih). Sedangkan kalau hanya rajin saja maka belum tentu lulus, dan juga kalau hanya cerdas saja maka nilai A nggak bisa diperoleh. Ini penting, karena untuk menjadi insinyur yang baik tidak hanya cerdas juga, tetapi juga rajin dan tanggap.

Selanjut untuk menghindari penilaian yang bersifat subyektif, maka biasanya hasil penilaian ujian mereka aku kembalikan. Kalau tidak puas bisa dipertanyakan.

Pada prinsipnya penilaian yang aku berikan adalah usaha untuk mendidik mereka lebih baik, tidak jaminan yang 'dekat' pasti baik nilainya, hanya saja yang dekat biasanya tidak sungkan untuk bertanya dengan demikian kalau ada kesulitan dapat mudah diatasi dan hasilnya nilainya jadi baik. Ada saja dalam praktek, secara sehari-hari 'dekat' tetapi nilai pada mata kuliahku jelek. Karena ya itu belum menguasai. Dalam memberi penilaian maka aku berharap nilainya dapat memicu mereka agar dapat belajar lagi lebih baik daripada mereka menghasilkan kesalahan di lapangan, yang mungkin mengakibatkan kerugian atau bahkan korban jiwa.

Sebagai dosen yang full-time yang setiap hari ada di UPH (kecuali saat ini karena sedang tugas belajar) maka aku lebih suka mahasiswa yang datang bertanya sebelum ujian, dibanding mereka yang datang setelah melihat hasil ujian hanya untuk memohon agar aku mempertimbangkan nilai mereka.

Selain itu, aku juga tidak setuju mengenai pendapat dosen yang lain yang mahasiswanya tidak lulus lalu dapat diganti dengan tugas. Nggak benar itu.

Salam sukses.

Mata kuliah asuhanku di UPH

Aku baru saja selesai membuat soal ujian semester pendek untuk hari Senin 10 Juli 2006 lusa. Mata kuliahnya adalah "Komputer Rekayasa Struktur - 2 sks" yang merupakan mata kuliah muatan lokal Jurusan Teknik Sipil, Universitas Pelita Harapan. Mata kuliah tersebut ada karena usulanku, oleh karena itu aku ditunjuk sekaligus menjadi dosen penanggung-jawabnya. Dengan demikian mata kuliah tersebut belum tentu ada di jurusan teknik sipil lain di Indonesia.

Bagaimana isinya. Sebagai pengusul dari mata kuliah tersebut maka isi dan silabusnya aku yang buat juga. Asli, idenya benar-benar orisinil, aku tidak mencontoh dari silabus manapun. Setelah menyakinkan jurusan bahwa mata kuliah tersebut dapat menjadi salah satu unggulan maka disetujui. Isinya adalah (sesuai katalog UPH):


Computerized Structural Engineering , 2 credits (TS13307)

To present the principles and techniques of doing static analysis of structure, using popular software in structural engineering. How to choose an appropriate structural model that represent the actual behavior of structure and make a correct interpretation of computer result by evaluating to the basic assumptions used in analytical models


Kalau membaca silabus di atas, isinya masih terlihat sangat umum. Memang pada tahap-tahap awal dalam memberi perkuliahan (sekitar tahun 1999), materinya memang belum terstruktur. Saat itu hanya mengandalkan hobby ku terhadap komputer dan pengalamanku dalam menguasai program SAP2000 yang aku peroleh sewaktu bekerja di PT. Wiratman dan PT. PSP. Tapi sejalan dengan waktu, materi yang ada menjadi semakin baik dan terstruktur. Sampai akhirnya materi-materi pada perkuliahan tersebut dapat aku tulis dalam bentuk buku berikut:


Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000


Buku tersebut diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo sebanyak 2500 eksp pada bulan Oktober 2004 dan sekarang sudah ludes meskipun harganya cukup mahal yaitu Rp. 75rb. Dengan terpublikasinya materi perkuliahan tersebut secara nasional dalam bentuk buku maka pertanggung-jawabanku ttg isi perkuliahan yang aku berikan di UPH terlaksana sudah.

Adanya mata kuliah tersebut menyebabkan kompetensi mahasiswa teknik sipil UPH meningkat, sebagai contohnya:
* tim mhs uph JUARA UMUM I - KBJI 2005
* tim mhs uph Juara Jembatan Teringan dan Terkuat (Terkokoh) - KJI 2006
Catatan : info lengkap ada di website pribadiku

Aku percaya, suatu hari kelak Jurusan Teknik Sipil UPH dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan universitas-universitas ternama di Indonesia bahkan di dunia.

Semoga.