Sabtu, Juli 08, 2006

Caraku memberi PENILAIAN di UPH

Aku tahu, mungkin ada mahasiswaku yang kesel karena nilai yang kuberikan. Aku memang tega memberi nilai 0 (nol) pada beberapa mahasiswaku jika kertas jawabannya kosong atau isi tapi nggak ada artinya. Tetapi di sisi lain, aku juga dengan senang hati akan memberi nilai 100 (seratus) jika jawaban yang diberikan sangat memuaskan. Bagiku, jawaban mahasiswa bisa saja berbeda 5 - 10% dan tetap aku beri nilai baik jika secara keseluruhan urut-urut pengerjaannya telah benar dan memuaskan.

Aku nggak tahu, apakah rekan-rekan dosen yang lain juga sependapat dengan caraku di atas.

Sebagai pengajar mata kuliah Analisa Struktur (I dan III), Struktur Beton Bertulang, Struktur Baja, Pemrograman Komputer, Komputer Rekayasa Struktur aku harus berani bertindak tegas. Mata kuliah yang aku berikan tersebut tidak mentolerir adanya kesalahan.

Dalam mata kuliah pemrograman komputer. Ketika anda salah menempatkan koma dan mengganti menjadi titik maka bisa saja komputer anda akan hang atau nggak jalan.

Sedangkan pada mata kuliah struktur beton bertulang. Anda bisa membayangkan jika ada dua insinyur sama-sama menghitung penulangan untuk struktur balok kantilever, kedua-duanya telah menghitung dengan prosedur yang benar (karena sama-sama hapal di luar kepala) dan memperoleh hasil jumlah tulangan yang diperlukan sama, misalnya 5D25, tetapi ternyata cara pemasangannya berbeda, satu memasang di bawah dan satu memasang di atas. Mana yang benar? Jelas, untuk struktur kantilever dengan momen negatif di tumpuan maka pemasangan tulangan di sisi atas adalah yang benar, sedangkan yang masang di sisi bawah telah membuat kesalahannya fatal. Kalau hal tersebut terjadi di lapangan bisa saja menyebabkan retak bahkan keruntuhan struktur yang mengakibatkan korban jiwa. Masih mending jika yang satu 4D25 dan yang lain 5D22, tapi sama-sama di sisi atas. Hal tersebut tentu masih dapat dipertimbangkan.

Jadi kompetensi dalam memahami materi yang ada dalam perkuliahan-perkuliahan tersebut sangat penting, tidak sekedar tahu tetapi harus paham khususnya menghadapi kasus nyata. Kesalahan dalam kasus nyata tidak hanya merugikan secara finansial tetapi bahkan dapat menimbulkan bencana. Latar belakang itulah yang mendasari cara aku memberi penilaian bagi mahasiswaku di UPH.

Sebenarnya yang aku inginkan dari mahasiswaku adalah BAGAIMANA dan MENGAPA mereka mendapat jawaban tersebut atau tepatnya latar belakang diperoleh jawaban tersebut.

Dalam satu sisi yang lain, aku merasakan bahwa perkuliahan yang aku berikan hanyalah sebagai pembuka wawasan mereka untuk belajar lebih banyak lagi agar menjadi PROFESIONAL. Aku menyadari bahwa 16 x kali tatap muka merupakan waktu yang singkat untuk memahami secara benar suatu permasalahan rekayasa. Oleh karena itu, dalam menentukan nilai akhir aku tidak mengandalkan semata-mata hasil UJIAN saja. Untuk itu aku memberi mereka tugas-tugas yang merangsang mereka untuk giat belajar. Selanjutnya agar mereka bersemangat maka tugas-tugas tersebut juga aku beri nilai dan dipertimbangkan dalam mendukung nilai Akhir.

Untuk mengerjakan tugas-tugas atau PR tsb, aku memberi mereka kebebasan, silahkan bila mereka bekerja sama dengan teman-temannya. Tapi yang penting harus dikerjakan sendiri. Oleh karena itu biasanya tugas yang aku berikan berbeda-beda untuk tiap person atau kelompok (maksimum dua orang). Selanjutnya NILAI TUGAS tersebut secara keseluruhan tidak boleh lebih dari 33.333% dari nilai total akhir. Dari tugas-tugas tersebut yang aku nilai adalah kemauannya, kerajinannya, dan apa-apa yang lain yang mungkin bersifat subyektif. Kalau mengerjakan dengan baik maka nilainya juga baik yaitu antara 70 - 90.

O ya tugas tersebut bisa satu atau lebih, tergantung bobot tugas yang diberikan dan juga waktunya. Bobot nilai yang lain yang sebesar 66.6667% diambil dari nilai UTS dan UAS, Jadi masing-masing 33.3333% . Disini yang aku nilai adalah kompetensinya. Kalau bisa mengerjakan maka nilainya 100 (seratus) dan kalau kosong adalah 0 (nol). Tega ya?.

Dari strategi penilaian yang aku berikan maka bagi mahasiswa rajin dan mampu mendapat nilai bagus minimal pada salah satu ujian yang diberikan yaitu UTS atau UAS saja maka mereka akan LULUS (nilainya C atau lebih). Sedangkan kalau hanya rajin saja maka belum tentu lulus, dan juga kalau hanya cerdas saja maka nilai A nggak bisa diperoleh. Ini penting, karena untuk menjadi insinyur yang baik tidak hanya cerdas juga, tetapi juga rajin dan tanggap.

Selanjut untuk menghindari penilaian yang bersifat subyektif, maka biasanya hasil penilaian ujian mereka aku kembalikan. Kalau tidak puas bisa dipertanyakan.

Pada prinsipnya penilaian yang aku berikan adalah usaha untuk mendidik mereka lebih baik, tidak jaminan yang 'dekat' pasti baik nilainya, hanya saja yang dekat biasanya tidak sungkan untuk bertanya dengan demikian kalau ada kesulitan dapat mudah diatasi dan hasilnya nilainya jadi baik. Ada saja dalam praktek, secara sehari-hari 'dekat' tetapi nilai pada mata kuliahku jelek. Karena ya itu belum menguasai. Dalam memberi penilaian maka aku berharap nilainya dapat memicu mereka agar dapat belajar lagi lebih baik daripada mereka menghasilkan kesalahan di lapangan, yang mungkin mengakibatkan kerugian atau bahkan korban jiwa.

Sebagai dosen yang full-time yang setiap hari ada di UPH (kecuali saat ini karena sedang tugas belajar) maka aku lebih suka mahasiswa yang datang bertanya sebelum ujian, dibanding mereka yang datang setelah melihat hasil ujian hanya untuk memohon agar aku mempertimbangkan nilai mereka.

Selain itu, aku juga tidak setuju mengenai pendapat dosen yang lain yang mahasiswanya tidak lulus lalu dapat diganti dengan tugas. Nggak benar itu.

Salam sukses.

Mata kuliah asuhanku di UPH

Aku baru saja selesai membuat soal ujian semester pendek untuk hari Senin 10 Juli 2006 lusa. Mata kuliahnya adalah "Komputer Rekayasa Struktur - 2 sks" yang merupakan mata kuliah muatan lokal Jurusan Teknik Sipil, Universitas Pelita Harapan. Mata kuliah tersebut ada karena usulanku, oleh karena itu aku ditunjuk sekaligus menjadi dosen penanggung-jawabnya. Dengan demikian mata kuliah tersebut belum tentu ada di jurusan teknik sipil lain di Indonesia.

Bagaimana isinya. Sebagai pengusul dari mata kuliah tersebut maka isi dan silabusnya aku yang buat juga. Asli, idenya benar-benar orisinil, aku tidak mencontoh dari silabus manapun. Setelah menyakinkan jurusan bahwa mata kuliah tersebut dapat menjadi salah satu unggulan maka disetujui. Isinya adalah (sesuai katalog UPH):


Computerized Structural Engineering , 2 credits (TS13307)

To present the principles and techniques of doing static analysis of structure, using popular software in structural engineering. How to choose an appropriate structural model that represent the actual behavior of structure and make a correct interpretation of computer result by evaluating to the basic assumptions used in analytical models


Kalau membaca silabus di atas, isinya masih terlihat sangat umum. Memang pada tahap-tahap awal dalam memberi perkuliahan (sekitar tahun 1999), materinya memang belum terstruktur. Saat itu hanya mengandalkan hobby ku terhadap komputer dan pengalamanku dalam menguasai program SAP2000 yang aku peroleh sewaktu bekerja di PT. Wiratman dan PT. PSP. Tapi sejalan dengan waktu, materi yang ada menjadi semakin baik dan terstruktur. Sampai akhirnya materi-materi pada perkuliahan tersebut dapat aku tulis dalam bentuk buku berikut:


Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000


Buku tersebut diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo sebanyak 2500 eksp pada bulan Oktober 2004 dan sekarang sudah ludes meskipun harganya cukup mahal yaitu Rp. 75rb. Dengan terpublikasinya materi perkuliahan tersebut secara nasional dalam bentuk buku maka pertanggung-jawabanku ttg isi perkuliahan yang aku berikan di UPH terlaksana sudah.

Adanya mata kuliah tersebut menyebabkan kompetensi mahasiswa teknik sipil UPH meningkat, sebagai contohnya:
* tim mhs uph JUARA UMUM I - KBJI 2005
* tim mhs uph Juara Jembatan Teringan dan Terkuat (Terkokoh) - KJI 2006
Catatan : info lengkap ada di website pribadiku

Aku percaya, suatu hari kelak Jurusan Teknik Sipil UPH dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan universitas-universitas ternama di Indonesia bahkan di dunia.

Semoga.

Jumat, Juli 07, 2006

Hare gene blum tahu FREN ya ?

Pagi ini aku sudah terima telpon dari orang tua di Yogyakarta, pagi-pagi benar sudah ada di lapangan, sudah berolahraga. Hebat sekali ya, kalau dipikir dari kemarin sudah ada 5 kali kami saling bertelpon-telponan Jakarta-Yogyakarta, interlokal lho. Yah hebat sekali, tanpa FREN tentu hal tersebut tidak akan terjadi.

Hebat sekali provider yang satu ini, strategi bisnisnya. Mula-mula aku tertarik mempunyai hp-FREN karena kemampuan koneksi internetnya yang sangat mobile. Aku sudah menggunakannya lebih dari satu tahun, yaitu selama aku di Bandung. Aku setiap minggu bolak-balik Bandung - Jakarta, setiap Senin dan Selasa ditunggu murid-murid di UPH , sedangkan hari lain aku harus menyelesaikan disertasiku di UNPAR.

Saat ini aku rasa fasilitas FREN dalam memberi koneksi internet sudah cukup bagus. Ini saja aku UP-LOAD tulisan ini dari FREN. Kalau hanya sekedar buka email dan up-load seperti ini cukup murah lhah. Tapi jangan sekali-kali anda down-load data yang besar-besar, bisa bokek langsung. O ya, tarif FREN yang aku pakai ini dihitung tiap byte yang dikirim atau terima, jadi waktu nulis seperti ini aku bisa on-line terus. Beda lho jika pakai telpon rumah karena dihitung per menit.

Agar dapat menggunakan FREN sebagai alat koneksi dunia maya maka diperlukan sarana sebagai berikut : 1 handphone NOKIA 6586, 1 kabel data NOKIA Connectivity Adapter Cable DKU-5 , hati-hati lho beli kabel ini harus asli. Aku pernah beli di mangga-dua dengan harga separonya, eh ternyata nggak bisa dipakai. Alat yang lain tentunya komputer, bisa notebook atau desktop. Ya sudah, anda bisa langsung tersambung di internet dimana saja selama di kota-kota besar di Jawa yang sudah dalam jangkauan FREN.

Setelah pengalamanku dengan Internet memakai FREN, ternyata mereka menyajikan fasilitas lain yaitu tarif murah bicara antar FREN diberbagai kota. Wah jelas, saudara-saudaraku banyak yang di Yogyakarta, jadi ya udah Bapakku di Yogya bawa FREN yang baru aku beli tempo hari bersama mas Totok dan dik Irawan, lalu aku pakai hp FREN yang di Bandung. Ya nama FREN memang benar-benar menambah friends.

Sukses ya untuk manajemen FREN, kalau bisa tarif murah antar kotanya jangan hanya tahun ini saja tapi ditambah lagi. Saya yakin deh temen-temen GSM pasti akan blingsatan. Seperti saat ini aku harus bawa dua HP, males sebenarnya, kalau orang nggak tahu dikira sok sibuk atau dikira pasti ini tukang tagih atau takut ditagih. Bila CDMA nanti sudah menjangkau luasan yang sama dengan GSM pasti kupakai terus (jika masih murah tentunya).

Kamis, Juli 06, 2006

Enam Juli, hari yang istimewa bagiku

Enam Juli, merupakan hari yang istimewa setiap tahunnya bagi aku dan istriku.

Bagaimana tidak, 15 tahun yang lalu tepatnya 6 Juli 1991, kami berdua sah menjadi suami-istri setelah mendapat sakramen perkawinan Katolik oleh Romo Sandiawan di Gereja Pugeran, Yogyakarta. Di awali dengan suatu misa yang dimeriahkan oleh Cor Jesu, koor kebanggaan muda-mudi Paroki Pugeran. Suatu ikatan kekal ilahi yang akan mewarnai hidup kami selanjutnya sampai hari ini. Saat ini lima belas tahun sudah berjalan, anakku yang pertama Agatha hampir 12 tahun usianya, anakku yang kedua Ignatius baru saja melewati ultah-nya yang ke-6. Keduanya telah bersekolah, satu masuk kelas 1 SMP dan yang bungsu juga masuk kelas 1 SD, di Yayasan yang sama yaitu Marsudirini, Kemang Pratama.

Pada ulang tahun ke-2 perkawinanku, tepatnya tanggal 6 Juli 1992, aku mendapat rumah yang sekarang yang aku tinggali, Taman Galaxi. Pilihan rumah tersebut sampai sekarang masih yang terbaik. Tidak pernah kena banjir (yang setiap tahun sering melanda Jakarta dan sekitarnya), tentram dan aman bahkan pada waktu kerusuhan besar tahun 1998 kemarin, dan banyak dihuni tetangga-tetangga yang cukup toleran. Selain itu, rumahku relatif dekat dengan gereja tempat Agatha sering datang bertugas menjadi putri altar dan juga istriku yang kadang suka bertugas sebagai pembaca kitab suci di misa-misa hari minggu.

Pada ulang tahun perkawinanku yang ke-15, yaitu hari ini. Aku berhasil mendapat ide topik yang dapat aku gunakan sebagai bahan disertasiku. Ide tersebut aku peroleh saat berdiskusi dengan promotorku Prof. Sahari Besari di rumahnya di Kanayakan. Padahal sudah hampir satu semester ini aku berkutat kesana kemari mencari ide, berdiskusi panjang lebar, bahkan setelah selesai menulis beberapa makalah seminar. Kesemuanya tanpa hasil, dan baru hari ini, pada saat ultah perkawinanku maka ide tersebut terbuka sudah.

Berbicara tentang promotorku, ada yang menarik juga. Aku tidak mengira bahwa Prof. Sahari berkenan menjadi promotor S3-ku. Itu semua adalah tanpa rencana, waktu itu aku salah kirim SMS, tapi nyatanya sejak kejadian tersebut, aku bahkan dapat berkomunikasi banyak dengan beliau. Sebelumnya aku tidak mempunyai pikiran untuk menghubunginya, karena kuanggap susah dan mungkin beliau tidak bersedia. Tapi nyatanya beliaulah Prof yang berkenan berdiskusi berjam-jam denganku, sehingga semua ide-ideku yang orisinil dapat keluar. Aku benar-benar merasa terhormat. Semoga beliau diberkati kesehatan dan dapat membimbingku sampai studiku selesai.

Betul juga, selama ini hari ulang-tahun perkawinanku memang telah kuanggap sebagai hari istimewa yang penuh keberuntungan. Seperti beruntungnya hidupku sehingga Tuhan berkenan memberi pendamping seperti istriku sekarang Yosephine.

Amin